Home | Raddien Pelangi Blog | Wirapati Blog | blogger.com

Buku: POLITIK LOKAL @BANTEN: Sebuah Refleksi Demokrasi

1 comments
Eksistensi partai politik di Banten sangat kental hubungannya dengan kepengaruhan para ulama atau kiyai, para jawara dan pengusaha-pengusaha lokalnya. Tiga pilar ini sudah ada dan tumbuh berkembang di Banten sejak Kesultanan Banten berdiri, masa kolonialisme, hingga Indonesia merdeka. Walaupun secara nasional saat ini partai politik di Indonesia terbagi dua, yaitu dengan faham nasionalis-sekulerisme dan agamis (Islam), pengaruh ulama, jawara, dan pengusaha masih kental dalam tubuh partai politik di Banten.

Selain itu, karakteristik utara dan selatan Banten pun berbeda. Banten Utara dengan masyarakat heterogennya lebih mudah berubah kecenderungan politiknya. Sedangkan Banten Selatan dengan masyarakat homogennya lebih statis pandangan politiknya, bila ada perubahan-perubahan perolehan suara tidak terlalu signifikan.

Beberapa kejadian atau aktifitas politik di Provinsi Banten di enam tahun terakhir, mulai dari Pilgub Banten tahun 2011, Pemilu Legislatif fan Pemilihan Presiden tahun 2014, hingga pelaksanaan Pilkada Serentak pertama kali pada tahun 2015, dan terakhir kali dengan diselenggarakannya Pilgub Banten tahun 2017, telah memberi warna demokrasi dan politik di tanah jawara. Masyarakat secara terus-menerus melakukan aksi politik individunya untuk turut serta menentukan pemimpinnya.

Singkatnya, buku ini menggambarkan refleksi demokrasi di Banten. Penggambaran demokrasi dan perpolitikan di Provinsi Banten ini dipertegas kembali dengan adanya pengukuran Indeks Demokrasi Indonesia atau disingkat dengan IDI. Semoga kehadiran buku ini menambah khasanah perpolitikan Indonesia, khususnya di Banten.

Judul: POLITIK LOKAL @BANTEN: Sebuah Refleksi Demokrasi
Penerbit: Yayasan Jatidiri Bandung
Cetakan: Pertama, Juli 2017, 234 hlm., 14x21 cm
ISBN: 978-602-61561-9-8 
Harga Buku: Rp60.000,-

read more

Wali Kota Serang Setuju Ada Badan Independen Kelola Banten Lama

2 comments
Wali Kota Serang Tubagus Haerul Jaman setuju jika ada badan independen yang mengelola kawasan wisata religi Banten Lama. Kawasan tersebut selama ini dikenal kumuh dan tidak terurus, padahal ada banyak cagar budaya yang dilindungi.

"Kalau menurut saya, baiknya bangun dulu bersama-sama, ketika sudah bagus tertata baik, sudah bisa berjalan, sudah indah, nyaman, baru ada badan," kata Jaman kepada wartawan di Kota Serang, Senin (10/7/2017).

Ia menjelaskan, ketika badan pengelola itu sudah terbentuk, otoritas tersebut harus mandiri. Namun yang terpenting dan mendesak saat ini adalah menata bersama-sama kawasan Banten Lama.

Ia juga mengaku, pada tahun lalu anggaran pengelolaan dan penataan cagar budaya Banten Lama memang tidak terserap. Ada Rp 17 miliar untuk pembebasan lahan yang, menurutnya, tidak selesai sampai sekarang.

"Tahun lalu tidak terserap pelaksanaan pembebasan lahan kalau nggak salah Rp 17 miliar. Karena waktu itu mekanisme tahapannya tidak terkejar," katanya saat dimintai pendapat soal kendala penataan Banten Lama.

Selain itu, ia tidak keberatan jika pihak pemerintah provinsi mengambil alih beberapa titik penataan di kawasan sana. Misalkan terkait pembangunan akses jalan dan pemeliharaannya.

"Grand design yang sudah dibuat bersama-sama dapat mempercepat pembangunan penataan dan pemeliharaan sehingga Banten Lama bisa dapat merasakan," ucapnya.

Sumber: news.detik.com

read more

Cagar Budaya Banten Lama Tak Terurus, Ini Kata Sejarawan

0 comments
Foto: Cagar Budaya Banten Lama Tak Terurus (Bahtiar-detikcom)

Penataan kawasan cagar Budaya Banten lama yang kumuh dan tak terawat dinilai mendesak. Sejak tahun 1980-an sebetulnya sudah ada usulan agar ada pengelola independen yang mengurus daerah bekas kesultanan Islam agar tertata dengan rapi.

Sejarawan Banten Mufti Ali dari LPPM UIN Sultan Maulana Hasanuddin mengatakan, jika berbicara zonasi, cagar budaya seperti Banten Lama mestinya steril dari pemukiman dan berbagai bangunan sejauh 2 sampai 3 kilometer. Sistem zonasi ini seperti yang diterapkan oleh pengelolaan Candi Borobudur.

Menurutnya, di Banten Lama yang menjadi situs cagar budaya bukan hanya Masjid Agung Maulana Hanasuddin. Akan tetapi ada cagar budaya lain seperti Keraton Surosowan, Jembatan Rante, Benteng Speelwijk, Pelabuhan Karangantu dan Keraton Kaibon yang juga mestinya steril demi kepentingan konservasi.

"Banyak yang rusak dan dialihfungsikan, harusnya tidak ada pembangunan, tidak ada pembuatan struktur bangunan moderen, sekarang sudah sangat masif," kata Mufti saat berbincang dengan detikcom, Serang, Jumat (7/7/2017).

Ia menganalogikan, saat ini kondisi kawasan Banten Lama berikut seluruh cagar budaya di sekitarnya sudah dalam batas merah. Butuh penanganan sistematis dan berkelanjutan agar penataan dan pengelolaan cagar budaya di Banten Lama selevel dengan Borobudur dan masuk sebagai warisan dunia dan diakui oleh UNESCO.

"Kita punya sejarah kebesaran, koleksi tentang informasi Banten Lama kita lengkapi, akses jalan serta lingkungan sekeliling ditata rapih. Karena itu wajah dan identitas Banten," ucapnya.

Sumber: news.detik.com

read more
Related Posts with Thumbnails