Home | Raddien Pelangi Blog | Wirapati Blog | blogger.com

Sejarah Cibom - Tanjung Layar, Taman Nasional Ujung Kulon Pandeglang Banten

Sejarah Cibom - Tanjung Layar (History of Cibom - Tanjung Layar)

Selat Sunda

Pada permulaan sejarah Jawa tercatat bahwa pada tahun 416 S.M. Selat Sunda terbentuk selama periode puncak kegiatan vulkanis yang membentuk lorong laut di antara dua pulau yang saat ini dikenal sebagai Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Selat ini dahulu tidak dikenali oleh para pelaut Eropa sampai pada tahun 1595, setelah itu menjadi salah satu jalur perdagangan terbesar antara barat dan timur.

Mercusuar di Tajung Layar

Bangunan mercusuar di Tanjung Layar mewakili suatu periode yang sangat penting dalam sejarah maritim Indonesia dan sejarah kolonial. Dahulu mercusuar di lokasi ini dijadikan "Ujung Pertama" karena geografinya yang strategis, sebagai petunjuk arah bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda.



Sebuah Dermaga di Cibom

Pada tahun 1808 Gubernur Jenderal Hindia Belanda merencanakan membangun sebuah pelabuhan laut di daerah Cibom.
Sultan Banten dengan berat hati menyediakan para pekerja tetapi karena para pekerja banyak yang sakit dan menderita bahkan diantaranya banyak yang meninggal dan yang tersisa pun menjadi lemah disebabkan "uap beracun yang berasal dari lahan kerja baru". Kemudian mereka melarikan diri dari daerah tersebut. Pelabuhan ini tidak pernah terselesaikan.
Pada masa itu pula Tanjung Layar menjadi lokasi tempat penjara dari para bajak laut yang membantu Sultan, dan mercusuar pertama mungkin dibangun sekitar waktu itu.



(Catatan penulis: konon yang dimaksud dengan istilah "uap beracun yang berasal dari lahan kerja baru" adalah wabah malaria yang belum dikenal dalam dunia kedokteran masa itu dan belum ditemukan obatnya, yang meninggal tidak hanya dari pribumi, dari kalangan orang Belanda pun ada yang terkena.)

Daerah Cibom - Tanjung Layar

Sisa-sisa dermaga Cibom masih dapat dilihat dengan adanya formasi batu bata dan tiang besi pancang.

Disepanjang jalan menuju Tanjung Layar (dari Cibom) terdapat pal-pal batu petunjuk jarak, sumur-sumur air, kuburan-kuburan dan sisa bangunan pasangan batu bata.



Terdapat juga sebuah tangga batu bata menuju ke lokasi mercusuar yang pertama dengan tinggi 40 meter, menjorok ke arah laut.

Mercusuar Pertama

Diduga bahwa mercusuar pertama dibangun, pada awal tahun 1800. Sebagian fisik bangunannya terbuat dari batu asli. Pada tahun 1880, bagian atas mengalami kerusakan yang parah akibat gempa bumi. Mercusuar runtuh sesudah letusan Gunung Krakatau tahun 1883,dan bagian dasarnya yang bundar sekarang menjadi tempat tangki air besar. Sisa-sisa tangga batu yang melingkar dapat dilihat di kompleks bawah.



Mercusuar Kedua

Mercusuar kedua ini di bangun dari kontruksi baja dan dilengkapi sebuah lampu gas dengan ketinggian 25 meter.



Mercusuar Ketiga

Mercusuar yang ada sekarang dibangun pada tahun 1972.Terletak 500 meter sebelah timur Tanjung Layar (dari mercusuar yang lama) dengan tinggi 40 meter (atau 65 meter di atas pemukaan laut) lampunya dapat dilihat dari jarak 25 mil laut. Di seberang Selat Sunda di Pantai Sumatera, terdapat juga sebuah mercusuar yakni mercusuar Blimbing (Vlakke Hocke) yang berjarak 110 km jauhnya.



Sebuah kelompok terdiri dari 5 orang petugas menjaga mercusuar ini, dengan jadwal kerja 4 bulan untuk satu periode. Walaupun sebuah kebun di buat di lokasi, namun semua bahan makanan pokok dan keperluan lainnya dikirimkan melalui kapal laut. Mercusuar ini dioperasikan oleh Departemen Perhubungan.
Silahkan memintakan izin dari petugas mercusuar sebelum memasuki daerah mercusuar.


Gelombang Pasang Tahun 1883

Pecahnya Pulau Jawa

Dari Sejarah awal Ujung Kulon, tulisan Orang Jawa
"Pada tahun 416 S.M. Gunung Kapi (Krakatau) dengan suatu gemuruh yang dahsyat meledak berkeping-keping dan tenggelam ke dasar bumi. Air laut naik dan menggenangi daratan, setelah air surut gunubng dan daerah sekitarnya menjadi laut dan Pulau Jawa terbagi menjadi dua bagian". (Buku Raja-Raja)

Terjadinya Letusan Gunung Krakatau

Pada tanggal 27 Agustus 1883, setelah abad yang relatif tenang, gunung berapi Krakatau meletus dengan dahsyat.

Penjaga mercusuar Tanjung Layar mencatat kejadian ini dalam buku hariannya:

Senin, 27 Agustus
  • Jam 06.00 pagi, suasana belum terang, lampu mercusuar masih menyala.
  • Jam 09.00 pagi, cuaca menjadi buruk dan sangat gelap.
  • Jam 11.00 pagi (kemungkinan lebih awal), letusan dahsyat terdengat, pintu-pintu serta jendela-jendela terbuka dan petir menyambar bangunan-bangunan.
  • Jam 11.10 pagi, petir menyambar tiang penangkal petir dan rusak, setelah itu petir menyambar pintu masuk mercusuar, melukai 4 dari 10 narapidana.
Selasa, 28 Agustus
  • Suasana terang pada jam 06.00 pagi dan untuk pertama kalinya diketahui bahwa daerah pantai rusak. Gelombang besar belum diketahui karena gelap didalam mercusuar.
Tanjung Layar, terlindung dari akibat gelombang besar yang tingginya antara 7 sampai 10 meter. Dari tiga dusun kecil di dekat garis pantai, 120 orang telah diselamatkan, disaat mereka mengungsi ke mercusuar, tetapi 14orang meninggal dunia.

Gelombang Pasang

Gelombang pasang yang menghantam garis pantai Selat Sunda, bukanlah suatu gelombang tunggal tetapi suatu seri gelombang yang susul menyusul selama beberapa jam.
Gelombang pasang terbesar, dimana bersamaan dengan letusan gunung Krakatau mencapai intensitas maximum pada jam 10.00 pagi, tanggal 27 Agustus 1883.

Diperkirakan bahwa pada awal kejadian, air laut naik kira-kira setinggi 30-40 meter dengan waktu tempuh kira-kira 35 menit untuk mencapai Tanjung Layar, dan pergerakan tersebut mencapai kecepatan 600 km/jam melintas ke Lautan Hindia.

Akibat Gelombang Pasang

Lebih dari 36.000 orang binasa akibat letusan tersebut, sebagian besar diakibatkan oleh gelombang pasang yang menerjang sampai sekitar 10 km ke daratan. Kapal uap "Berouw" terdampar ke daratan sejauh 2,5 km.

Pengaruh terhadap Dunia

Akibat dari letusan Gunung Krakatau telah dicatat di seluruh dunia:
  • Suara letusan terdengar disepertigabelas permukaan bumi dari yang paling jauh di barat pada Kepulauan Mauritius (4.800 km) ke Australia Selatan (3.200 km).
  • Selama dua hari debu letusan jatuh di pantai Afrika Utara.
  • Gelombang pasang menerjang sepanjang 8.700 km, mencapai Port Elizabeth di Afrika Selatan.
  • Fluktuasi pasang tercatat di dalam Terusan Inggris sejauh 17.800 km.
  • Kenaikan tekanan atmosfer tercatat pada barometer sebesar 7 kali di seluruh dunia.
  • Debu di dalam atmosfer membuat kegelapan yang luar biasa di seluruh dunia.
  • Sejumlah besar batu terapung-apung di atas permukaan laut, dan masih terus ditemui pada tahun 1885.
  • Letusan Krakatau pada tahun 1883, walaupun lebih kecil dari letusan-letusan sebelumnya, menunjukan kejadian yang paling mencekam sepanjang sejarah.
Pengaruh di Ujung Kulon

Catatan harian Kapal "Bay of Naples" melaporkan:
"... pada jarak 120 mil dari Ujung Pertama Pulau Jawa (Tanjung Layar) selama gangguan letusan ... ditemukan bangkai-bangkai binatang termasuk bangkai-bangkai harimau ... di samping batang-batang kayu besar".

Sebagian besar hutan pantai dan rawa-rawa mangrove hancur. Walaupun demikian pertumbuhan kembali hutan Ujung Kulon sangat cepat dan menjadikan hutan yang lebat dan merupakan habitat yang ideal bagi badak bercula satu.



Sumber: Pusat Informasi Taman Nasional Ujung Kulon dan berbagai sumber lainnya.

Lihat Juga:

1 comments:

Putranto Sangkoyo mengatakan...

Dear Penulis,

Sangat bagus, informatif dan bermanfaat info ini krn sy ada rencana ke TNUK dlm wkt dekat.

Mohon klarifikasi, kenapa di internet orang-orang menyebut pulau Cibom ? Apakah ada juga pulau Cibom dekat situ ? Sepemahaman saya, Cibom adalah daerah pesisir, bukan pulau, letaknya di semenanjung Ujung Kulon, berseberangan dengan Pulau Peucang, sama spt Tanjung Layar.

Pertanyaan selanjutnya, kalau Cibom bukan pulau, kenapa daerah itu diberi nama khusus ? Biasanya nama diberikan untuk suatu desa, dusun, daerah dimana ada penduduknya.

Terimakasih & Salam,
Tanto

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails