Home | Raddien Pelangi Blog | Wirapati Blog | blogger.com

Melihat Sisi Lain Fort Rotterdam (Benteng Ujung Pandang) Makassar

"ROAD 2 MAKASSAR"
- Visit Makassar 2011 -


Hari Pertama, 6 Maret 2011, 13.00 - 18.00 WITA.


Menggunakan pete-pete dari Taman Wisata Alam Bantimurung jurusan Pasar Maros aku pun melanjutkan perjalanan menuju Kota Makassar. Tetapi kata sang sopir bila banyak penumpangnya yang menuju Sub Terminal Daya maka pete-pete ini bisa saja terus melewati Pasar Maros untuk ke Sub Terminal Daya dan berganti pete-pete menuju Kota Makassar. Jadi yang seharusnya 2 kali berganti pete-pete jadi cukup sekali saja sampai dengan Sub Terminal Daya. Karena dihitung 2 kali trayek makanya ongkos yang dikeluarkan sebesar Rp10.000,00. Selanjutnya dengan naik pete-pete 05 perjalanan dilanjutkan menuju Kota Makassar sampai dengan Lapangan Karebosi atau yang lebih dikenal dengan Sentral. Sentral merupakan kawasan perniagaan/pasar tradisional dan modern menjadi satu. Dengan membayar ongkos Rp5.000,00 sampai lah aku di Lapangan Karebosi, selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Pantai Lokasi hingga pertigaan jalan yang menuju Trans Studio untuk mencapai Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam), dari pertigaan ini kembali naik pete-pete menyusuri Pantai Losari hingga berhenti tepat di depan Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam). Ongkos yang dikeluarkan sebesar Rp3.000,00 dikali 2 sehingga menjadi Rp6.000,00. Jadi dihitung dari Taman Wisata Alam Batinmurung hingga mencapai Fort Rotterdam harus berganti pete-pete sebanyak 4 kali dengan total ongkos Rp21.000,00, dibandingkan bila mempergunakan taxi akan mencapai Rp100.000,00 dengan waktu tempuh mencapai 2 jam (bila menggunakan taxi perkiraan waktu hanya 45 menit karena lewat jalan tol reformasi ... ckckckckckkkk ....).



Tugu Pahlawan Makassar dan Suasana Pintu Masuk Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam)

Dengan menempuh perjalan yang cukup jauh tersebut terasa hilang setelah menenggak air kelapa segar yang banyak terdapat di depan area benteng (sebrang jalannya). Tetapi harganya cukup mahal yaitu Rp7.000,00 sebutirnya. Sambil menikmati air kelapa dan dagingnya hingga lelah terasa hilang, aku lanjutkan trip ini untuk memasuki benteng yang cukup terkenal ini karena perawatannya yang sangat baik oleh Pemerintah Daerah. Dengan disapa oleh petugas keamanan benteng dan mengisi daftar tamu yang tersedia, dan tentunya "memberi sumbangan" seikhlasnya aku pun memasuki kawasan benteng. Memang takjub yang aku rasakan seketika, sangat rapi dan indah suasana dalam benteng ini, walau lagi ramai oleh pengunjung penduduk lokal berbaur dengan wisatawan lainnya. Benteng ini dibuka untuk umum setiap harinya dari jam 07.30 s.d. 18.00 WITA. Coba saja lihat foto-foto berikut ini, cukup indah kan.






Bangunan-bangunan ini merupakan hasil rehabilitasi yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam rangka Visit Makassar 2011, sehingga terlihat sangat rapi nan asri.


Bangunan yang tepat di tengah Benteng dahulu merupakan Rumah Ibadah (Gereja)



Ditempat ini pula Pangerang Diponegoro, seorang Ulama dan Pejuang di Jawa ditahan hingga wafatnya.

Menjelang magrib, aku akhiri perjalanan di benteng ini dengan menikmati pisang epe yang banyak dijajakan di sepanjang jalan depan benteng. Setelah itu aku pun menuju Hotel tempat menginap pada acara dinas yang akan aku ikuti besok hari.


Sejarah Singkat Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam)

Benteng Ujung Pandang dibangun oleh Raja Gowa IX Daeng Matanre Karaeng Manguntungi Tumaparrisi Kallonna dan diselesaikan oleh putranya Raja Gowa X Imanriogau Bontokaraeng Lakiung Tonipallangga Ulaweng dengan kontruksi tanah liat tahun 1545. Atas perintah Raja Gowa XIV Imangerangi Daeng Manrabia (Sultan Alauddin) pada tahun 1634 tembok benteng diperbaiki dan menambah material batu karang, batu padas dan batu bata menggunakan kapur dan pasir sebagai perekat.

Benteng Ujung Pandang terletak sebelah utara Benteng Somba Opu di wilayah Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar dengan letak astronomis 508,3 LS 119:24,17 BT dengan ketinggian 0,5 meter di atas permukaan laut.

Benteng Ujung Pandang memiliki bentuk yang sangat spesifik yaitu berbentuk menyerupai penyu yang sedang merayap ke laut. Bahan baku bangunan benteng disusun dari batuan endesit yang tertata dengan baik dan bentuk susunan batu persegi empat ukuran bervariasi. Luas benteng adalah 28.595,55 meter bujur sangkar, ukuran panjang setiap sisi berbeda, dinding bagian barat 225 meter, sisi tembok bagian utara 164 meter, bagian timur 193,2 meter, di bagian selatan antara bastion Butan dengan Bacam 155,35 meter tinggi dinding bervariasi antara 5-7 meter dengan ketebalan rata-rata 2 meter.

Pada tahun 1667 Benteng Ujung Pandang jatuh ke tangan Belanda setelah Kerajaan Gowa kalah perang dan Perjanjian Bungaya (Pasal 10 dan 11) ditandatangani 18 November 1667 maka Benteng dibawah kekuasaan Belanda, dan sejak itu pula bangunan permanen di dalam benteng mulai dibangun dan sejak itu pula nama benteng berubah menjadi Fort Rotterdam.

Benteng Ujung Pandang mempunyai lima buah sudut dan semua sudut biasa juga disebut Bastion, yaitu:
  1. Bastion Bone, terletak di sebelah Barat merupakan kepala penyu;
  2. Bantion Bacam, terletak disudut Barat Daya;
  3. Bastion Buton, terletak di sudut Barat Laut;
  4. Bastion Mandarsyah, terletak di sudut Timur Laut;
  5. Bastion Amboina, terletak di sudut Tenggara.

Nama-Nama Lain Untuk Benteng Ujung Pandang:
  1. Benteng Ujung Pandang karena letaknya di Ujung atau Tanjung yang banyak di tumbuhi pohon pandan (karena lokat orang lokal setiap akhiran 'n' menjadi 'ng');
  2. Benteng Penyu karena bentuknya seperti penyu yang sedang merayap ke laut;
  3. Fort Rotterdam, nama yang diberikan oleh Kolonial Belanda sesuai kota kelahiran Cornelis Spelman di Negeri Belanda;
  4. Kota Towaya, bahasa Makassar yang artinya merupakan pusat kegiatan pemerintahan pada saat itu.

Fungsi Benteng Dari Masa Ke Masa:
  1. Masa Kerajaan Gowa sebagai Benteng Pertahanan;
  2. Masa Kolonial Belanda dibawah Pemerintahan Gubernur Cornelis Spelman sebagai Markas Komando Pertahanan, Kantor Pusat Perdagangan, dan Pemukiman Pejabat-Pejabat Tinggi Belanda. Pangeran Diponegoro pernah ditawan disini. Pada tahun 1937 Fort Rotterdam diserahkan oleh Pemerintah Belanda kepada Yayasan Fort Rotterdam tanggal 23 Mei 1940, di daftar sebagai monumen bersejarah dengan No. Register 1010 sesuai monumenten STBL Tahun 1931, kini telah diganti oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dan ditetapkan sebagai BCB No. Urut 01/UP/Sulsel No. Registrasi 3201;
  3. Masa Pendudukan Jepang (1942-1945) sebagai pusat kegiatan penelitian ilmu pertanian dan bahasa;
  4. Masa Revolusi Fisik (1945-1969) sebagai pusat kegiatan pertahanan dalam menumpas pejuang-pejuang republik oleh Belanda;
  5. Pada tahun 1950 sempat menjadi tempat pemukiman anggota TNI dan warga sipil sebelum jatuh kembali pada tahun yang sama dan dijadikan Pusat Pertahanan Tentara KNIL dalam mematahkan perlawanan TNI;
  6. Pada tahun 1970 Benteng Ujung Pandang dikosongkan kemudian dipugar, pada tanggal 27 April 1977 diresmikan sebagai Pusat Kebudayaan Sulawesi Selatan (Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar, dengan wilayah kerja Provinsi Sulawesi Selatan - Tenggara) dan di tengah benteng dipugar menjadi Museum Umum Provinsi Sulawesi Selatan La Galigo.

5 comments:

sofie mengatakan...

salam kenal admin.. website nya bagus.. nice info..

Raddien mengatakan...

@Sofie: makasih, smakin terpicu utk slalu blogging ... ;-)

nas mengatakan...

jasa buat account google adsense hanya 30rb, berminat? call/sms 02168936593 stelah account jd..baru byr..(bisa di blog bhs indonesia) ( mantan banned juga bisa)

rotyyu mengatakan...

Saya juga dari sana sekitar bulan Maret 2011, tidak lihat ruangan penahanan Pangeran Diponegoro karna ditutup. Saya hanya sempat lihat-lihat di Museum La Galigo

sobatpetualang mengatakan...

salam kenal min..benteng fort rotterdam memang sangat unik,, situs peniggalan sejarah seperti ini harus kita jaga kelestarianya..

Posting Komentar

Related Posts with Thumbnails