Home | Raddien Pelangi Blog | Wirapati Blog | blogger.com

Tips Mengembangkan Pariwisata Banten

Membaca Harian Banten Pos tanggal 2 September 2013 pada halaman 9 sangat menarik, memang pariwisata menjadi salah satu pengambil peran yang sangat signifikan dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Adanya arus orang keluar masuk daerah pariwisata tentunya membawa keuntungan dari berbagai sektor, tidak hanya arus orang, disana juga terdapat arus atau distribusi uang. Ujung-ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat dan sekitarnya.

Adanya obyek pariwisata tentu diikuti dengan arus orang, arus barang, dan arus uang. Masyarakat yang berkunjung ke daerah pariwisata, walaupun dengan cara hemat seperti ala kalangan backpacker pun tentunya membawa uang. Dimana uang ini dipergunakan untuk konsumsi, sewa penginapan, dan keperluan lainnya.

Untuk itu, dalam rangka terus mewujudkan pengembangan pariwisata di Banten, perlu dukungan dan kerjasama berbagai pihak, tentunya dengan dukungan penuh Pemerintah Daerah, baik Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota. Seperti halnya sebagaimana berita pada media cetak di atas, begitu antusiasnya Pemerintah-Pemerintah Daerah di Yogyakarta dalam mendukung dan pengembangan obyek pariwisata daerah, tentunya hal ini perlu ditiru, tidak hanya sebagai bahan kajian dan tertumpuk di meja atau lemari saja.

Pengalaman penulis selama menjelajah pelosok negeri, banyak sekali yang dapat diambil secara positif dalam rangka pengembangan pariwisata di Banten, antara lain:

  1.  Perbaikan akses infrastruktur jalan dan transportasi, peran infrastruktur jalan sangatlah dominan dalam rangka meningkatkan arus manusia dan transportasi menuju dan dari obyek pariwisata. Lihat saja jalan-jalan menuju obyek pariwisata dominan di Banten seperti ke Anyer, Sawarna dan Ujung Kulon, sering penulis dengar sesama traveler mengeluhkan hal ini sehingga perlu tindakan nyata untuk memperbaiki dan mempertahankan kondisi jalan yang baik dan mulus.
  2. Perbaikan sarana dan prasarana pada obyek pariwisata itu sendiri. Selain infrastruktur menuju dan dari obyek wisata, tentunya adalah pengembangan sarana dan prasarana pada obyek pariwisata itu sendiri. Tentunya hal ini tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri, tetapi melibatkan pemilik atau pengelola obyek wisata tersebut bila pengelolanya bukan Pemerintah Daerah. Sederhana saja, seperti kebutuhan akan air bersih, MCK, akomodasi yang bersih, dan lain sebagainya.
  3. Penataan pedagang dan/atau penjual kaki lima. Jangan dianggap peran mereka dalam peningkatan obyek wisata, pedagang/penjual kaki lima sangat dominan dalam obyek wisata. Mereka dapat menyediakan secara cepat kebutuhan konsumsi pengunjung maupun kenang-kenangan atau oleh-oleh. Tetapi agar tidak semrawut dan kumuh, perlu dilakukan secara tertib dan teratur. Selain itu juga penertiban terhadap para gelandangan atau peminta-minta yang justru kerab mengganggu para pengunjung. Sebagai contoh penulis ambil seperti yang terlihat di obyek wisata Kawasan Banten Lama, dengan tidak mengurangi rasa hormat penulis terhadap pengelola Banten Lama, beberapa hal ini sering dikeluhkan dari rekan-rekan penulis pada saat mengunjungi kawasan tersebut, antara lain (a) tidak tertibnya pedagang kaki lima, pengunjung diharuskan mutar-mutar agar melewati para pedagang tersebut untuk masuk ke Masjid Agung Banten, (b) para peminta-minta atau secara umum sebut saja pengemis yang sepertinya memaksa dengan kata-kata "sedekah", "infak", "amal jariyah", dan sejenisnya, (c) bila melakukan ziarah, begitu banyaknya "kencleng" yang ditawarkan kepada peziarah, seharusnya dibiarkan saja biar peziarah sendirilah yang memasukkan "kencleng" tersebut tanpa perlua adanya "paksaan" atau "sodoran". Hal ini tidak terjadi atau penulis alami tatkala melakukan ziarah ke Masjid Demak, Masjid Sunan Kudus, maupun Masjid Sunan Muria.
  4. Pelibatan masyarakat sekitar obyek wisata sebagai "tuan rumah". Penulis mengalami kejadian yang luar biasa tatkala berkunjung ke Makassar, begitu antusiasnya masyarakat "tuan rumah" terhadap tamu yang berkunjung. Mereka seperti "guide" terhadap setiap pengunjung, walaupun mereka memasang tarif, tapi tarif ini masih dalam kategori wajar. Mereka menawarkan diri sebagai "guide" tetap dengan menggunakan bahasa dan cara yang sopan dan tidak memaksa, tidak hanya di Makassar, kalau di Bali ataupun Lombok tentunya hal ini sudah jauh-jauh dulu dilakukan. Nah, untuk di wilayah Banten ini yang belum dilakukan. Peran pemerintah daerah dalam melakukan sosialisasi dan pembinaan terhadap masyarakat setempat perlu terus dilakukan, terutama kepada para pemudanya.
  5. Mengemas obyek wisata secara kontinyu. Kemasan obyek wisata secara terus menerus dan kontinyu tentunya sangat menarik pengunjung, agar bisa terjadwal, sehingga para pengunjung pun dapat merencanakan perjalanannya jauh-jauh hari sebelumnya. Contoh kemasan wisata di daerah lain seperti (a) Festival Dieng Plateu di Dataran Tinggi Dieng Banjarnegara-Wonosobo, (b) Festival Krakatau yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Lampung, dan lain sebagainya. Berkaca hal tersebut, perlu dilakukan kemasan-kemasan wisata secara makasimal, terutama di obyek-obyek wisata di Banten, tidak hanya pada saat high season, tetapi pada saat low season juga perlu dilakukan. Beberapa contoh hal yang dapat dilakukan seperti (a) Festival Keraton Kesultanan Banten, (b) Festival Ujung Kulon, (c) Festival Sawarna, atau event-event lain yang disesuaikan dan cocok untuk masyarakat setempat.
  6. Komitmen dan kerjasama. Tidak kalah penting adalah komitmen dan kerjasama Pemerintah Daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam upaya tetap terus mengembangkan pariwisata di Banten. Lihat saja, Bali - Lombok - Yogyakarta - dan daerah-daerah lain sudah maju terlebih dahulu dalam bidang pariwisata, justru dari pariwisatalah pendapat asli daerahnya dapat di dongkrak. Mungkin selama ini untuk wilayah Banten sudah terlena dengan kawasan industrinya sehingga melupakan pariwisata.
  7. Pengembangan kuliner dan cinderamata. Kuliner dan cinderamata seakan-akan tidak bisa lepas dari suasasa wisata dimanapun, sehingga pengembangan kuliner dan cinderamata yang variatif dan inovatif menjadi penunjang penting.

Sebagai penutup, tidak ada maksud penulis untuk menyinggung atau mengkritik pihak-pihak tertentu, hal ini berdasarkan pengalaman penulis jua selama menjelajah negeri ini. Tentunya banyak hal positif diambil, diantaranya seperti diuraikan di atas. Demikian dan terima kasih.

5 comments:

soegara ady mengatakan...

Agan, numpang nanya pisan ini. Kalau dari Bandung mau ke Serang, naik bus umum bisa dijelaskan rutenya bagaimana saja ? Turun di mana, naik jurusan apa... Saya mau ke Jalan Syech Nawawi, KP3.

Thanks Berat Gan.

Wisata Pulau Tidung mengatakan...

Seperti di kepulauan seribu Jakarta, sektor pariwisata menjadi sumber utama untuk mendongkrak perekonomian masyarakatnya. Salam Wisata.

Hudan Zulkarnaen mengatakan...

Sangat menyentil. peran pemerintah dengan masyarakat daerah memang harus selaras.
Banten Butuh Kritik-kritik yang seperti ini.
kalo boleh tau abang siapa? saya pengen kenal. menarik dari tulisan-tulisannya.
nyari CP tapi gak ada :D

saya putera daerah Sumur-Ujung Kulon. lagi usaha untuk mengembangkan wisata di daerah.
jika berkenan kunjungi web saya http://ujungkulonwild.com/

Pulau Tidung mengatakan...

Sudah saatnya pemerintah berusaha memajukan daerahnya, guna menunjang pendapatan masyarakatnya. Salam.

Wisata Pulau Tidung mengatakan...

Kalau bukan kita siapa lagi yng bakal peduli, mari kita sama - sama mengembangkan potensi wiata yng ada.

Posting Komentar

Related Posts with Thumbnails