Home | Raddien Pelangi Blog | Wirapati Blog | blogger.com

Kejutan Wisata Syariah Indonesia, Lombok Menyabet Gelar Juara “World’s Best Halal Tourism Destination”


Indonesia mendapat tiga gelar bergengsi dalam ajang World Halal Travel Award. Semua negara tercengang.

"Lomboook...!" Sang pembawa acara berteriak lantang. Spontan, penonton yang berasal dari Indonesia lompat dari kursi. Kegirangan bukan kepalang. Berpekik tiada henti. Berhamburan ke atas panggung. Semua mata penonton lain terperanjat. Luapan kegembiraan itu terbayar karena Lombok menyabet gelar juara “World’s Best Halal Tourism Destination ”.

Di Emirates Palace, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, itulah Lombok dinobatkan sebagai tujuan wisata halal terbaik dunia. Melibas Abu Dhabi dan Malaysia yang selama bertahun-tahun menjadi menguasai ajang "World Halal Travel Award."

Dalam ajang 20 Oktober 2015 tersebut, Lombok menyabet dua gelar sekaligus. Selain sebagai tujuan wisata syariah terbaik, pulau di Nusantara bagian tengah itu juga merengkuh gelar World's Best Halal Honeymoon Destination. Hotel Sofyan juga menjadi wakil Indonesia dinobatkan sebagai Best Family Friendly Hotel. Hotel milik keluarga ibunda artis Marshanda ini, Riyanti Sofyan ini, mengalahkan dua pesaing dari Dubai, Gloria Hotel dan Landmark Hotel.

Dari 14 kategori ajang ini, Indonesia masuk dalam lima nominasi. Selain tiga kategori itu, Indonesia masuk dalam dua kategori lain, yaitu World’s Best Halal Culinary Destination dan World’s Best Halal Cultural Destination. Tiga gelar berhasil dibawa pulang ke tanah air. Inilah tahun emas wisata syariah Indonesia. Tak ketinggalan, Dubai dan Malaysia juga menyabet gelar lainnya.

Prestasi ini bukan hasil kerja semalam. Perlu waktu cukup lama untuk membangun sektor ini. “Kemenangan itu harus direncanakan, bukan kebetulan dan datang tiba-tiba,” kata Menteri Pariwisata, Arief Yahya.

Lihatlah hasil survei Crescentrating Pte Ltd., lembaga asal Singapura yang fokus pada pasar wisata syariah. Pada tahun 2013 itu, Indonesia masih tercecer di peringkat ke-6 sebagai tujuan wisata syariah. Di bawah Malaysia, Mesir, Uni Emirat Arab, Turki, dan Arab Saudi.

Data ini tentu cukup memprihatinkan. Mengingat Indonesia sebagai rumah muslim terbesar di dunia. Berdasar data Pew Research Center, pada 2010, jumlah muslim di Indonesia mencapai 204 juta atau 88% dari jumlah populasi. Atau 12% dari populasi muslim di muka Bumi. Inilah kekuatan Indonesia. Penduduk mayoritas muslim ini menjadi pondasi membangun wisata syariah tanah air. Sehingga bisa turut menikmati kue bisnis yang sangat besar ini. Lihat saja data MasterCard-Crescent­Rating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2015, bisnis ini angkanya mencapai US$145 miliar atau sekitar Rp2.035 triliun. Angka ini ditaksir tumbuh menjadi Rp 2.807 pada 2020.

Bagaimana dengan prospek wisata syariah? Pertumbuhan sektor ini paling tinggi. Wisata Syariah dunia rata-rata bertumbuh 6%, lebih cepat dari sektor travel manapun. Termasuk lebih tinggi dari rata-rata tur dan travel dunia, yang saat ini tumbuh sekitar 5%.

“Jadi, kalau menggunakan analisa SSS atau triple S, yakni size (ukuran), spread (laba atau margin keuntungan), dan sustainable (keberlangsungan), maka pasar halal travel itu sangat menjanjikan,” sebut Arief.

Jelas ini ceruk bisnis menggiurkan. Kementerian Pariwisata segera menata diri. Pada 2014, sembilan wilayah tanah air dibenahi. Dijadikan tujuan wisata syariah. Selain Lombok, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Makassar, juga dijadikan primadona tujuan wisata syariah. Sebelum program itu diluncurkan, sebanyak 1.270.437 wisatawan muslim sudah berbondong ke Indonesia. Mereka berasal dari Arab Saudi, Bahrain, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Angka itu diprediksi naik pada tahun 2015 ini.

“Target 2019 akan ada lima juta kunjungan wisatawan halal yang datang. Sehingga kita dapat mengalahkan Thailand, Malaysia dan Singapura,” tutur Arief.

Menurut Arief, pasar Timur Tengah menjadi target empuk Indonesia. Pengeluaran pelancong Timteng dikenal paling tinggi. Orang UEA misalnya, dalam sekali plesir bisa menghabiskan US$1.700 perkepala. Disusul Saudi US$1.500. Jika dirata-rata, turis Timteng akan membelanjakan US$1.200 dalam sekali plesir.

Tahun 2013 silam, hanya 190 ribu turis Timteng yang datang ke Indonesia. Tahun ini, Indonesia hanya menarget 250 ribu turis asal Timteng. Tahun 2016 diproyeksikan naik menjadi 310 ribu, dan tahun 2019 direncanakan mampu menembus 560 ribu orang. Dan penghargaan di Abu Dhabi Oktober itu telah membuktikan Indonesia sebagai primadona baru wisata syariah dunia. Hampir semua orang tak menyangka Lombok bakal meraih gelar bergengsi itu. Setelah penobatan itu, banyak pelaku bisnis travel syariah yang penasaran dan menghampiri delegasi Indonesia.

“Ada apa dengan Lombok? Lombok itu dulu terasa jauh. Sekarang semua orang bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Lombok. Dulu dari no where in the world, sekarang menjadi somewhere in the world,” tutur Nia Niscaya, delegasi Indonesia yang turut hadir pada malam penghargaan di Emirates Palace itu.

Dan yang membuat semua orang terkejut malam itu, Malaysia dan Thailand tak menggondol satu pun gelar dalam ajang itu. Padahal dua negeri jiran itu selama ini menjadi primadona turis muslim, khususnya dari Timur Tengah.

“Kami bangga, meskipun deg-degan sepanjang acara sampai pengumuman itu usai,” ujar Nia. Inilah awal keemasan wisata syariah Indonesia.

Sumber: dream.co.id

0 comments:

Posting Komentar

Related Posts with Thumbnails